Friday, 4 May 2012

Rewrite For Ayahku

Ayah sepertiga malam ini ananda mengingatmu, mengingat semua tentangmu. Ayah aku sekarang telah” besar “, aku sudah bisa hidup. Hidup sendiri, jauh dari bising suara herman yang gelisah melihat tim sepakbola kesayangannya kalah, dari celoteh uda yang resah melihat perkembangan pikiran kritisku, juga dari over kagumnya Hendro dan Robi terhadap sosokku..tapi di luar itu aku sangat rindu mama yang selalu mendengarkan tiap keluh kesahku tentang uda, tentang sekolahku, tentang herman yang bisu, tentang wanita yang kusayangi waktu itu. Juga mama selalu mendengar gelisahku kala melihat Ayah yang sering duduk berlama-lama di warung dengan kawan-kawan Ayah hingga seakan Ayah lupa akan mama dan kami berlima.

Namun semua tinggal nostalgia kita. Sekarang maafkan aku Ayah aku belum bisa dibanggakan, belum dapat memberikan sebungkus rokok kretek kesukaanmu, sejuta emas untuk kebanggaan yang diiming-imingkan uda untukmu.


Ayah, saat aku duduk di bangku sekolah ayah pernah bilang, aku ini “lain” sedikit berbeda yang pasukan pandawamu. Tapi, lanjutmu aku ini terlalu bodoh untuk berbohong, terlalu lunak untuk menjadi tegas. Kau juga bilang, aku ini terlalu cengeng, banyak mengeluh dan selalu melarikan diri dari kesalahan.


“Ah mungkin Ayah. Namun ingatkah saat remaja, aku kerap membuatmu galau, marah, bahkan kecewa terhadapku. Kau tak pernah lagi mau menyempatkan diri melihat nilai-nilaiku.

Tak pernah ada lagi pembelaanmu terhadap “keanehanku”, seakan kau sudah masa bodoh. Sampai akhirnya uda ikut menambahkan dan menyalahkan. Ah Uda bertanya tentang tingkahku, mukanya yang keling seakan memutih pasih mendengar jawaban dari pertanyaannya.

“Ha…ha…ha..sudah tahu nanya” begitu jawabku meremehkan. Selanjutnya bogem-bogem mentah kami saling beradu. Sampai akhirnya raungan dan tangisan mama lah yang membuat kami berhenti. Aku tak kuat mendengar mama meraungi kami

Ayah sekarang aku berada di kota yang mana telah menyeretku untuk berpikir memahami kenyataan, mengartikan tanggung jawab, membawa diri disela-sela perbedaan. Ayah…aku sangat rindu padamu, pada caramu mendidik uda, aku, dan adik-adik. Caramu mencintai mama juga caramu mengasihi umi, apa, amak dan kakak perempuanmu di Bukittinggi.

Entahlah Ayah di kota ini rinduku kian membengkak bak bisul yang mau pecah, menggunung bak payudara gadis tetangga sebelah saat ku dipinta merabanya., hahahahahah….Yah tetangga sebelah kita Ayah, perempuan yang pernah kupacari setelah dipacari uda….uh gila!!!

Ayah pada akhirnya aku sangat menyayangimu, mencintaimu, merindukanmu …disini banyak inginku mengadu memberitahumu tentang “sesuatu”. Tentang hari-hariku, tentang semua yang terjadi padaku disini… Maafkan aku ayah. Semoga engkau sedikit tenang melihat keadaanku yang mulai membaik.. Doakan aku ayahanda…

Miss u

Untuk Mimpiku

Guratan wajahmu masih sama seperti saat pertama kali menatap laku halusmu di lapangan penuh puing dimana tempt aku dan teman habiskan sore dengan bersepak bola.

kupikir wajahmu akan asing, kusangka akan berbeda, berbeda tak sama, seperti silam waktu yg kurajut demi rasa cintaku yg sengaja ku pendam,..
Alasanku kau masih sgt muda, sgt haram utkku mengganggu ceria masa remajamu. Hanya saja saat kurasakan gejolak didadaku mendalam aku brmimpi memilikimu tp kau telah berpaling....

Mendung dikota ini mengodaku mengajak menggapai wajahmu, khayalku membentuk siluet wajahmu, wajah yg akan mengajakku menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok mini yg kuambil dri sakumu yg katanya kamu sudah merokok skrg,...

Ah aku tetaplah aku ''bu'', aku tak pernah mengerti apa itu gemerlap, apa itu kilauan. Yang aku tahu hanya sederhananya sulaman kaus hitam ditubuhku, jg tawa ceria teman kecil baruku yg lepas dari takdirnya,...

Sejujurnya aku sangat menantimu, sangat ingin selalu dalam hari2mu,..hanya ikatan itu selalu mgajakku merasa selalu berslah padamu

Maafkan aku...love u

Bom Cinta di Tengah kotaku

Sore diatas keramain kecil dikota cirebon, masih terlihat sisa-sisa mobil stasiun televisi dari jakarta sesekali hili mudir, mgkn plg ke kandangnya setelah beberapa hari meliput laporan peristiwa bom di kota ni.
Tp melulu bukan soal bom kemarin, itu hanya seutas cerita kejutan utk harmoni bising tertawa bocah miskin di perempatan kota cirebon.
Sekarang itu sudah berlalu, semoga tidak ada lagi cerita bodoh itu utk generasi kampung dari kota ini.
Kembali kepada sore hari ini, dimana aku duduk diatas rumah makan milik tante,..
Mentari mulai menguning karena waktu hampir begeser menuju malam. Desing mesin mobil masih bertalu-talu, hanya saja sebuah plang tepat didepan rumah makan sedikit menguak ingatku akan kamu.

Sedikit kuno memang design plang yg bertema kesunda2an itu, plang itu masih kokoh,..berkarakter, buat aku plang itu selalu berarti, hehehe.. Entahlah

at siliwangi road, 23.04.2011

U took my heart away


Ditengah sayupnya suara mesin pabrik yg berjarak hanya sejalan aku melamun..
Melamun ttg dirimu, dirimu yg selalu membius jari2ku utk mengetik keypad di hape bututku. Menginspirasikn status utk fbku. Menfollow tweet2 cinta yg hanya lagi-lagi itu ttgmu.

Sesaat Nyamukpun menggoda hinggap diatas hapeku, kubunuh dia hanya utk membaca sms darimu. Kau benar2 membuatku, tersenyum sndiri,..menangis, merindu

Kipas dikamar menghentak mengusung kembung lambungku,..tp belum mampu mngalihkan jernihnya bayanganmu yg kugambar di tembok imajiku.

Aku benar2 gila tanpamu, aku tak mampu lepaskan perasaan ini,.. Kau telah membuatku berpikir hanya kamu perempuan utkku..